Maybe I Was Never Meant to Be His Rest
Sekarang aku mulai paham kenapa dia memilih menjauh.
Bukan karena aku terlalu banyak meminta.
Bukan juga karena aku kurang berusaha.
Mungkin memang sesederhana itu: dia sedang terlalu penuh dengan hidupnya sendiri.
Ada begitu banyak hal yang sedang dia bawa sendirian. Masalah yang belum selesai, lelah yang nggak pernah benar-benar hilang, pikiran yang mungkin bahkan terlalu ramai untuk sekadar menerima keberadaan orang lain.
Dan aku datang dengan niat yang sangat sederhana.
Aku cuma ingin jadi bagian kecil yang menyenangkan di hidupnya.
Kalau harinya terlalu berat, aku ingin jadi tempat dia tertawa.
Kalau hidupnya sedang melelahkan, aku ingin jadi sedikit jeda.
I thought maybe my presence could be a little escape from all the things that exhaust him.
Tapi ternyata aku salah.
Bukan karena aku buruk sebagai tempat pulang, mungkin memang dia sedang tidak punya ruang untuk siapa-siapa.
Ketika seseorang sedang berjuang bertahan dengan dirinya sendiri, bahkan kehadiran orang yang menyayanginya pun bisa terasa seperti sesuatu yang harus ia tanggung.
Dan mungkin, tanpa pernah benar-benar mengatakannya, aku adalah satu hal lagi yang harus dia pikirkan.
Itu yang paling menyakitkan untuk aku terima.
Karena selama ini aku pikir aku sedang membantunya bernapas, ternyata mungkin aku justru membuat napasnya terasa semakin sempit.
Aku pikir aku sedang menjadi hiburan di tengah hidupnya yang penuh keluhan tentang lelah.
Ternyata keberadaanku belum bisa membuatnya merasa lebih ringan.
And maybe that’s why he left.
Bukan karena aku tidak cukup baik.
Bukan karena perasaanku tidak tulus.
Hanya saja, aku sedang menawarkan kehangatan kepada seseorang yang bahkan sedang terlalu lelah untuk merasakan hangatnya.
Aku baru sadar, seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri memang sulit menerima orang lain dengan utuh.
Dan mungkin aku tidak seharusnya terus bertanya,
“Kenapa aku tidak bisa membuat dia nyaman?”
Karena mungkin jawabannya bukan tentang aku.
Dia memang sedang tidak nyaman dengan hidupnya sendiri.
Dan bagaimana mungkin aku bisa menjadi tempat nyaman untuknya, kalau di dalam dirinya sendiri pun dia sedang tidak menemukan tempat untuk beristirahat?
Sedihnya, aku benar-benar ingin menjadi bagian yang baik dalam hidupnya.
Aku ingin menjadi alasan kecil kenapa hari-harinya terasa sedikit lebih ringan.
Tapi ternyata cinta, perhatian, dan niat baik tidak selalu bisa menyelamatkan seseorang dari lelahnya sendiri.
So, maybe this is where I stop trying to fix what was never mine to fix.
Aku tidak lagi ingin memaksa diriku menjadi rumah bagi seseorang yang bahkan sedang sibuk mencari jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Kalau kehadiranku terasa seperti beban, mungkin menjauh adalah satu-satunya bentuk sayang yang masih bisa aku berikan.
Bukan karena aku berhenti peduli.
Tapi karena akhirnya aku mengerti—
sometimes, loving someone means knowing when your presence is no longer the comfort you hoped it would be.
Dan mungkin, kali ini, aku harus belajar menerima bahwa aku sudah mencoba.
Aku sudah datang dengan niat baik.
Aku sudah ingin menjadi tempat yang menyenangkan.
Aku sudah ingin menjadi sedikit cahaya di hari-harinya yang melelahkan.
Hanya saja, ternyata aku bukan jawaban dari lelahnya.
Dan itu bukan kegagalanku.
Mungkin dia hanya sedang membutuhkan dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar