The Sweetest Goodbye I Never Wanted to Write

There was a time when texting you felt effortless.


Aku gak perlu mikir mau ngomong apa. Bahkan “selamat pagi” saja sudah cukup membuat hariku terasa lebih ringan.


Lalu entah sejak kapan…


Our conversations stopped feeling like home.


Aku bisa merasakan perubahan itu, bahkan sebelum kamu mengakuinya.


Every reply became shorter.


Every conversation became colder.


Dan yang paling menyedihkan adalah… aku masih terus mencoba menghangatkan sesuatu yang diam-diam sudah kamu tinggalkan.


Hari itu aku memberanikan diri bertanya,


“Menurut kamu, kita mau gimana?”


Bukan karena aku ingin memaksa.


Aku hanya ingin tahu… apakah aku masih memiliki tempat di hidupmu.


Lalu aku menulis,


“Our conversation doesn’t feel warm anymore.”


Kalimat itu sebenarnya sangat sederhana.


Tapi di baliknya ada berhari-hari menahan perasaan. Ada ratusan chat yang kubaca ulang hanya untuk memastikan kalau aku tidak sedang overthinking.


Unfortunately…


I wasn’t.


Aku memang sedang kehilanganmu.


Bukan dalam satu hari.


Tapi sedikit demi sedikit.


Lalu, mungkin karena aku terlalu lelah berjuang sendirian, aku bercanda.


Aku bilang sudah membuat surat pengunduran diri.


Aku bahkan mengirim file Word seperti orang yang benar-benar ingin resign.


Lucu ya?


Aku mencoba mengemas patah hati menjadi sebuah lelucon.


Karena terkadang…


Humor is the only way to survive a breaking heart.


Aku masih sempat bilang,


“Agak cringe ya… tapi ini dari hati.”


Karena memang dari hati.


Everything I said that day came from the deepest part of me.


Dan sebelum semua benar-benar berakhir…


Aku masih sempat mengatakan,


“Love you banget, sayang.”


“Miss you banget, sayang.”


Sekarang kalau kubaca lagi chat itu…


Aku tidak merasa malu.


Aku juga tidak menyesal karena pernah mencintai seseorang sedalam itu.


Yang membuatku sedih justru hal lain.


Bahwa ada seseorang yang dulu membuatku merasa menjadi perempuan paling dicintai…


berubah menjadi orang yang bahkan tidak lagi mampu menghangatkan sebuah percakapan.


Maybe that’s what heartbreak really is.


It’s not when people leave.


It’s when they stay…


but their heart quietly leaves first.


Dan mungkin surat pengunduran diri itu sebenarnya bukan untuk hubungan ini.


Melainkan untuk versi diriku yang terus memohon agar tetap dipilih.


Karena cinta seharusnya tidak terasa seperti mengajukan resign setiap hari, berharap atasan berubah pikiran dan memintamu tetap tinggal.


Sometimes…


the hardest resignation isn’t leaving someone you love.


It’s finally accepting that you’re no longer wanted in a place you once called home.

Komentar

Postingan Populer