When Love Turns Into Confusion

I never thought that at this age, I’d still have to learn how to survive a broken heart.

Dulu aku selalu berpikir heartbreak adalah sesuatu yang kita alami di usia belasan atau awal dua puluhan. Saat semuanya masih impulsif, saat kita masih belajar tentang cinta.

Ternyata aku salah.

Tidak ada umur yang membuat kehilangan jadi lebih mudah.

Yang berubah hanya cara kita menangis.

Sekarang kita tetap berangkat kerja. Tetap meeting. Tetap membalas chat orang lain. Tetap tersenyum saat ditanya, “Lagi baik-baik aja kan?”

Padahal di dalam hati, ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Yang paling sulit sebenarnya bukan menerima bahwa hubungan ini berakhir.

Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa orang yang dulu begitu lembut… sekarang bisa begitu dingin.

Aku masih sering bertanya-tanya.

What happened to you?

Ke mana laki-laki yang dulu membuatku merasa aman?

Ke mana orang yang selalu mencari kabarku?

Ke mana seseorang yang dulu membuatku percaya bahwa dicintai itu ternyata sesederhana hadir?

Karena yang kutemui di akhir cerita adalah seseorang yang seperti bingung dengan dirinya sendiri.

Setiap percakapan terasa seperti sengaja menyakiti. 

Apa pun yang kukatakan selalu terlihat salah.

Setiap conversation terasa menyakitkan, bukan karena kita bertengkar, tapi karena aku bisa merasakan kamu sengaja menjaga jarak. Seolah kehadiranku menjadi sesuatu yang ingin kamu hindari.

Sampai hari ini aku masih belum tahu alasannya.

Mungkin aku tidak akan pernah tahu.

Tapi kepalaku terus mencoba mencari jawaban.

Mungkin… kamu sedang berjuang dengan sesuatu yang bahkan tidak bisa kamu ceritakan. Mungkin mental issue yang sedang kamu hadapi membuat kehadiranku terasa seperti beban tambahan, bukan lagi tempat pulang.

Atau mungkin… kamu memang seorang avoidant. Semakin seseorang mendekat, semakin besar keinginanmu untuk menjauh. Bukan karena tidak peduli, tapi karena kedekatan itu sendiri terasa menakutkan.

Atau mungkin… semua ini sesederhana statusku.

Mungkin sejak awal kamu sadar kita tidak berada dalam situasi yang mudah. Dan satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya adalah membuatku membencimu. Mungkin kamu memilih menjadi orang jahat supaya aku berhenti berharap.

Dan kemungkinan terakhir…

Kemungkinan yang paling ingin kuhindari.

Mungkin kamu memang udah gak sayang aku lagi.

Entah mana yang benar.

Yang membuatku bingung, aku harus menebak-nebak alasan seseorang berubah.

Karena dulu kamu adalah orang yang sama yang membuatku percaya bahwa cinta itu tenang.

Sekarang kamu juga orang yang sama yang membuatku mempertanyakan semua kenangan itu.

Kadang aku berpikir…

Mungkin semua jawaban itu sebenarnya sudah tidak penting.

Karena apa pun alasannya, hasilnya tetap sama.

Aku tetap harus belajar melepaskan seseorang yang pernah menjadi tempat paling nyaman.

Dan mungkin, itu bagian yang paling menyakitkan dari sebuah heartbreak.

Bukan ketika seseorang pergi.

Tapi ketika orang yang sama, yang dulu begitu manis, perlahan berubah menjadi orang asing… sementara kita masih sibuk mengingat versi dirinya yang sudah tidak ada lagi.


Komentar

Postingan Populer