Eight Days of Letting You Go
8 Hari Setelah Kehilanganmu
Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan.
Tapi mereka tidak pernah cerita kalau delapan hari pertama rasanya seperti bertahan hidup.
Hari pertama, aku benar-benar yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir aku cukup kuat. Aku pikir aku bisa melepasmu lebih mudah dari yang kubayangkan.
Lalu datang hari kedua.
Satu Instagram Story. Satu note sederhana: “This too shall pass.”
Lucu ya. Kalimat yang seharusnya menenangkan justru menghancurkan hariku. Aku pulang kerja lebih cepat karena air mata tidak mau berhenti. Rasanya seperti kehilanganmu lagi, padahal kenyataannya kamu memang sudah tidak ada.
Hari ketiga aku marah.
Jam 04.46 pagi, dengan kepala yang penuh emosi, aku cuma bisa mengetik, “Kamu jahat banget, sumpah.” Setelah itu aku memblokirmu di mana-mana. Kupikir itu akan membuatku lega.
Ternyata tidak.
Yang hilang cuma akses menuju kamu. Bukan rasa sakitnya.
Hari keempat aku bahkan tidak punya tenaga untuk menjalani hidup seperti biasa.
Aku teringat reels yang pernah kamu kirim.
“How much you think I miss you, and how much I actually miss you.”
Aku percaya setiap katanya waktu itu.
Makanya sampai hari ini aku masih bertanya-tanya…
How do people who loved me so deeply become the people who hurt me so easily?
Hari kelima lebih kejam.
Otakku berhenti mengingat akhir cerita, dan mulai memutar ulang awalnya.
Baju hitammu.
Kaos hitamku.
Mocca latte yang kamu pesan.
Cara kamu bersikap baik di pertemuan pertama.
Aku baru sadar… ternyata yang paling sulit dilupakan bukan perpisahannya, tapi kenangan-kenangan kecil yang dulu terasa biasa.
Sore itu aku masih sempat menghubungimu. Berusaha menyelamatkan sisa hubungan yang bahkan sudah tenggelam.
Tidak ada balasan.
Dan diammu jauh lebih menyakitkan daripada kata “selamat tinggal.”
Hari keenam, aku mencoba berdamai.
Aku memutar lagu yang selama ini kuhindari. Aku menangis. Hanya setetes.
Untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa mungkin… hatiku mulai lelah menangis.
Hari ketujuh aku menemukan kalimat yang terasa sangat pas.
“Selamat merayakan mati rasa.”
Bukan karena aku sudah sembuh.
Tapi karena hatiku mulai kehabisan tenaga untuk terus terluka.
Lalu datang hari kedelapan.
Sedih itu perlahan berubah menjadi marah.
Bukan marah karena kamu pergi.
Tapi karena aku masih sibuk mengumpulkan kepingan diriku sendiri, sementara kamu terlihat baik-baik saja. Seolah cerita kita tidak pernah meninggalkan bekas apa pun.
Mungkin memang begitulah move on.
Bukan tentang berhenti mencintai dalam semalam.
Tapi tentang bangun setiap pagi dengan dada yang masih sesak… lalu tetap memilih menjalani hari.
Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar sembuh, aku ingin mengingat delapan hari ini.
Bukan karena sakitnya.
Tapi karena ternyata aku pernah mencintai seseorang sedalam itu… sampai kehilangan dirinya hampir membuatku kehilangan diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar