Kamu Mau Aku Gimana?

Ada orang yang pergi karena sudah tidak peduli.

Tapi ada juga yang tetap tinggal, bukan karena kuat, melainkan karena terlalu sayang untuk benar-benar melangkah.

Aku yang kedua.

Belakangan aku sadar, mungkin kamu sedang bingung dengan sesuatu yang bahkan tidak bisa kulihat. Ada lelah yang tidak pernah kamu ceritakan. Ada sunyi yang tidak pernah berhasil kamu jelaskan. Dan aku hanya bisa menebak-nebak dari caramu menjauh.

Sejak saat itu, aku berhenti menganggap semua sikapmu sebagai penolakan. Aku mulai berpikir, mungkin hidup sedang terlalu berat untukmu.

Tapi di situlah aku tersesat.

Aku tidak tahu apakah yang kamu butuhkan adalah seseorang yang tetap tinggal, atau justru seseorang yang cukup mengerti untuk melepaskanmu sendiri.

Kalau aku mendekat, aku harus belajar menerima setiap perubahanmu. Belajar memaklumi dingin yang datang tanpa alasan. Belajar memahami diam yang tidak pernah diberi penjelasan. Dan setiap kali aku mencoba mengerti, ada bagian dari diriku yang perlahan ikut retak.

Namun setiap kali aku mencoba menjauh, hatiku selalu kembali pada pertanyaan yang sama.

Bagaimana kalau sebenarnya kamu ingin ditemani, hanya saja tidak tahu cara memintanya?

Aku takut salah memilih.

Takut bertahan di saat kamu sedang ingin sendiri.

Takut pergi di saat kamu diam-diam berharap ada seseorang yang tidak ikut meninggalkanmu.

Barangkali, mencintai seseorang yang sedang terluka memang seperti berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Kita tidak tahu apakah harus mengetuk, masuk, atau berbalik pulang.

Bukan karena aku tidak tahu caranya pergi.

Aku hanya belum menemukan keberanian untuk meninggalkan seseorang yang mungkin sedang belajar bertahan hidup… sementara aku bahkan tidak tahu apakah kehadiranku adalah pelukan, atau justru beban.

Maybe that’s what love feels like sometimes.

Not saving.

Not leaving.

Just quietly breaking… while hoping your existence still means comfort to someone you can no longer reach.


Komentar

Postingan Populer