Ketika Lupa Tak Pernah Datang
Terus gimana kalau ternyata ada perasaan yang memang tidak diciptakan untuk selesai?
Aku sudah mencoba membiarkan hari-hari berlalu tanpa menyebut namamu. Menata ulang hidupku sedikit demi sedikit, seperti orang yang membereskan rumah setelah ditinggal penghuninya. Semuanya kembali rapi, hanya saja… rasanya tidak lagi berpenghuni.
Aneh ya.
Yang pergi itu kamu.
Tapi yang kehilangan arah justru aku.
Sebab sejak kamu memilih menjauh, bahkan hal-hal yang dulu terasa sederhana ikut berubah bahasa. Langit masih sama, hujan masih turun di kota yang sama, lagu-lagu masih terdengar seperti biasanya.
Hanya aku yang tidak lagi menjadi orang yang sama saat menikmatinya.
Lalu aku bertanya, diam-diam, kepada semesta yang tentu saja tidak pernah menjawab…
Terus gimana kalau selamanya aku gak bisa lupain kamu?
Apa aku harus terus berjalan sambil membawa namamu seperti musim yang tak kunjung berganti?
Atau memang ada orang-orang yang ditakdirkan menetap, bukan di samping kita, melainkan di ruang paling sunyi di dalam hati.
Kalau memang begitu…
Izinkan aku berhenti memaksa diriku untuk lupa.
Karena mungkin, mencintaimu tidak pernah salah.
Yang belum bisa aku pelajari hanyalah bagaimana hidup tanpa terus-menerus mencari bayanganmu di setiap hal yang indah.
Dan kalau suatu hari nanti aku masih mengingatmu…
Semoga rasanya sudah berubah.
Bukan lagi seperti ombak yang menghantam pantai tanpa henti.
Melainkan seperti senja.
Tetap datang setiap hari, tetap membawa namamu, tapi akhirnya bisa pulang tanpa meninggalkan badai.
Komentar
Posting Komentar