Maybe I Didn’t Change. Maybe I Just Adapted
“You’ve changed.”
Kalimat itu mungkin jadi kalimat yang paling sering kamu ucapkan ke aku belakangan. Dan setiap kali aku dengar itu, aku selalu bertanya-tanya…
Did I really change?
Atau sebenarnya aku cuma sedang menyesuaikan diri dengan versi kamu yang juga sudah berbeda?
Dulu aku banyak cerita. Sekarang aku jadi memilih diam. Dulu aku gampang cari kamu. Sekarang aku belajar nahan diri. Dulu aku bisa spam chat tanpa mikir dua kali. Sekarang aku bahkan mikir berkali-kali sebelum ngetik satu kalimat.
Bukan karena aku tiba-tiba jadi orang yang berbeda.
Tapi karena setiap perubahan sikapmu pelan-pelan mengajarkan aku untuk berhenti melakukan hal-hal yang dulu terasa aman.
Aku pernah bilang,
“I thought you didn’t like me being too needy.”
Dan itu bukan kalimat untuk menyalahkan kamu. Itu cuma cara paling sederhana buat menjelaskan kenapa aku jadi seperti sekarang.
Karena waktu seseorang mulai menjaga jarak, kita otomatis ikut mundur.
Waktu seseorang mulai membalas dengan dingin, kita mulai takut mengganggu.
Waktu setiap conversation terasa penuh nada sinis, kita jadi kehilangan tempat yang dulu terasa seperti rumah.
Aku masih bingung.
Bingung kenapa semuanya berubah secepat itu.
Bingung kenapa seseorang yang dulu bikin aku merasa paling diterima, sekarang justru bikin aku terus bertanya-tanya apa salahku.
Kenapa kamu menjauh?
Kenapa kamu jadi colder?
Kenapa hampir setiap percakapan terasa seperti aku sedang berbicara dengan orang asing?
Sampai hari ini, aku masih belum tahu jawabannya.
Mungkin memang ada sesuatu yang nggak pernah akan aku mengerti.
Dan mungkin yang paling menyedihkan bukan tentang hubungan yang selesai.
Tapi tentang semua pertanyaan yang harus hidup tanpa jawaban.
It’s strange how people can become strangers while you’re still memorizing the version of them that once felt like home.
Aku rasa yang paling sulit bukan melepaskan.
Yang paling sulit adalah menerima bahwa kita harus mengakhiri sebuah cerita, sementara masih ada begitu banyak “kenapa” yang menggantung di udara.
Mungkin suatu hari semua ini akan masuk akal.
Atau mungkin tidak.
Tapi kalau suatu hari nanti kamu kembali bilang, “Kamu berubah,” mungkin jawabanku akan tetap sama.
“I did.
But only because I was trying to survive the version of you that changed first.”
Komentar
Posting Komentar