Padahal Aku Pernah Ada
Aku kadang bingung dengan cara manusia mengingat kesepian.
Kita bisa merasa begitu sendiri setelah seseorang pergi, tapi lupa bahwa dulu pernah ada seseorang yang dengan sukarela memilih tinggal.
Aku pernah datang ketika hidupmu sedang tidak baik-baik saja.
Bukan karena aku ingin menjadi penyelamatmu. Aku cuma… kasihan melihatmu menghadapi semuanya sendirian.
Dan anehnya, aku menikmati menemanimu.
Aku tidak merasa terbebani dengan lelahmu. Tidak merasa terganggu dengan hari-harimu yang berantakan. Bahkan ketika kamu tidak punya banyak hal untuk diberikan, aku tetap merasa cukup hanya dengan berada di dekatmu.
Aku pikir mungkin keberadaanku bisa membuat harimu sedikit lebih ringan.
Ternyata, aku salah mengira.
Karena pada akhirnya, aku yang datang untuk menemani kesendirianmu justru dibuat merasa bahwa keberadaanku adalah sesuatu yang terlalu berat untuk dipertahankan.
Dan sampai sekarang aku masih tidak tahu mana yang lebih menyakitkan:
kehilanganmu, atau mengetahui bahwa ketika aku masih ada, kamu tidak merasa sedang ditemani.
Aku tidak pernah meminta untuk menjadi bagian terbesar dalam hidupmu.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa kamu cari ketika dunia terasa terlalu sepi.
Tapi mungkin aku memang datang di waktu yang salah.
Atau mungkin kamu memang belum tahu bagaimana cara menerima seseorang yang datang tanpa meminta apa-apa selain kesempatan untuk tinggal.
Jadi kalau suatu hari kamu kembali merasa sendirian, aku harap kamu tidak hanya mengingat rasa kehilangan itu.
Ingat juga bahwa pernah ada seseorang yang melihat kesendirianmu dan tidak takut untuk duduk di sebelahnya.
Seseorang yang sebenarnya senang menemanimu.
Seseorang yang tidak pergi karena bosan.
Dia pergi karena akhirnya sadar, menemani seseorang yang terus-menerus membuatmu merasa tidak diinginkan juga bisa terasa sangat sepi.
Komentar
Posting Komentar