Rumah yang Singgah

Maybe I Was Just a Passing Season

Ada orang-orang yang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk memperkenalkan sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.

Mungkin aku adalah itu bagimu.

Aku datang membawa rumah dalam bentuk seseorang. Membawa tenang yang tidak banyak bertanya. Membawa cinta yang tidak pernah meminta dibalas dengan ukuran yang sama. I loved you in the quietest way—without applause, without conditions, without keeping score.

Lalu perlahan aku menyaksikan musim itu berakhir.

Bukan karena cintaku habis.

Tapi karena kamu mulai memilih jalan yang tidak lagi mengarah kepadaku.

Someone said,

“You came into his life to show him a love he never had. And then he showed you why he never had it.”

Kalimat itu terdengar begitu indah… sampai aku sadar aku sedang menjalaninya.

Barangkali semesta memang mengirimku untuk mengajarkanmu bahwa ada cinta yang sabar, yang lembut, yang tetap tinggal bahkan ketika dunia sedang berisik.

Dan kamu…

mengajarkanku bahwa tidak semua hati mampu menerima ketulusan tanpa merasa ingin melarikan diri.

Aku sempat mengira aku kurang.

Kurang menarik. Kurang dewasa. Kurang menyenangkan. Kurang layak dipilih.

Padahal, mungkin yang kurang bukan aku.

Mungkin hanya waktunya.

Atau mungkin… memang bukan aku yang ingin kamu genggam sampai akhir.

The hardest part isn’t losing you.

It’s accepting that I have to let go of the version of you who once made me feel chosen.

Karena orang yang paling kurindukan bukan kamu yang sekarang.

Melainkan kamu yang dulu pernah memanggilku pulang lewat hal-hal sederhana. Yang membuatku percaya bahwa dicintai ternyata bisa sesederhana, “udah makan belum?”

Aku datang membawa seluruh ketulusanku.

Lalu pulang membawa seluruh pertanyaanku.

Some people remember the love they received.

Some people only remember the moment they decided to leave.

Dan sayangnya, kita mengingat cerita yang sama dengan cara yang sangat berbeda.


Komentar

Postingan Populer