See You In Another Life
Katanya waktu menyembuhkan segalanya.
Ternyata, waktu cuma mengajarkan kita cara hidup tanpa seseorang. Bukan menghilangkan rasa itu sepenuhnya.
Enam belas tahun lalu, aku pernah mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang kupikir hanya akan menjadi bagian dari masa muda. Kami berpisah seperti kebanyakan orang saat itu—tanpa drama besar, tanpa penutup yang benar-benar selesai. Hanya dua orang yang berjalan ke arah hidupnya masing-masing.
Life goes on.
Dia juga menjalani hidupnya. Kami tumbuh menjadi orang yang bahkan mungkin tidak akan saling kenal jika bertemu di jalan.
Atau… setidaknya itu yang kupikir.
Sampai suatu hari, takdir punya selera humor yang aneh.
Bandung.
Dari semua kota di Indonesia, justru kota yang hampir mustahil menjadi titik temu kami.
Aku sempat bertanya dalam hati, What are the odds?
Awalnya hanya obrolan ringan. Menanyakan kabar. Mengenang hal-hal yang dulu terasa begitu sederhana. Tidak ada niat untuk mengulang apa pun.
Tapi ternyata hati manusia tidak selalu bisa membedakan antara nostalgia dan perasaan yang benar-benar kembali.
Hari demi hari, percakapan kami mulai terasa seperti rumah yang dulu pernah kutinggalkan.
Aku mulai menunggu notifikasi.
Mulai tersenyum tanpa alasan.
Mulai merasa, “Mungkin memang ada cerita yang belum selesai.”
Aku terlalu sibuk mencari makna di balik kebetulan.
Aku menganggap semesta sedang memperbaiki jalan cerita kami.
Padahal mungkin… semesta hanya ingin mengajariku satu pelajaran lagi.
Bahwa tidak semua orang yang kembali, datang untuk menetap.
Ada yang datang hanya untuk memastikan kita benar-benar bisa melepaskan.
Sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu yang diam-diam sudah kami berdua tahu.
“We shouldn’t do this.”
Bukan karena rasa itu tidak ada.
Justru karena rasa itu masih ada.
Kami sama-sama sadar bahwa hidup sudah membawa kami ke arah yang berbeda. Ada janji yang sudah diucapkan kepada orang lain. Ada kehidupan yang tidak boleh dihancurkan hanya demi mengejar versi “bagaimana kalau dulu…”
Dan untuk pertama kalinya, aku membenci seseorang karena melakukan hal yang benar.
Dia memilih menjauh.
Bukan karena berhenti peduli.
Tapi karena peduli tidak selalu berarti harus memiliki.
Ironisnya, perpisahan kedua ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada enam belas tahun lalu.
Dulu kami berpisah karena waktu.
Sekarang kami berpisah karena memilih menjadi orang yang bertanggung jawab.
It’s a different kind of heartbreak.
Yang pertama membuatku kehilangan seseorang.
Yang kedua membuatku kehilangan kemungkinan.
Aku sempat marah pada takdir.
Kenapa dipertemukan lagi kalau akhirnya harus berpisah lagi?
Kenapa harus Bandung?
Kenapa harus sekarang?
Kenapa harus setelah enam belas tahun?
Lalu aku sadar…
Mungkin aku selama ini salah membaca tanda.
Pertemuan kami bukan hadiah.
Bukan second chance.
Bukan jalan pulang.
Mungkin itu hanyalah bab terakhir yang dulu tidak sempat ditulis.
Closure doesn’t always feel peaceful.
Kadang closure justru datang dalam bentuk patah hati yang lebih hebat, supaya kita akhirnya benar-benar berhenti berharap.
Hari ini aku masih belajar menerima bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memperjuangkannya.
Ada cinta yang bentuk paling dewasa justru adalah melepaskan.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun…
Aku benar-benar mengucapkan selamat tinggal.
No more “what if.”
No more “maybe someday.”
Hanya doa sederhana.
Semoga di kehidupan yang sedang kita jalani, kita sama-sama menjadi orang baik untuk orang yang telah memilih dan dipilih oleh kita.
Kalau memang ada semesta lain yang tidak mengenal kata terlambat, mungkin kita akan bertemu di sana.
But not in this life.
In this life, loving you from afar is the kindest thing I can do.
And maybe…
that’s enough.
Komentar
Posting Komentar