Semudah Berucap

 Ada satu kalimat yang sampai sekarang masih aku benci.

“This too shall pass.”

Lucunya, kalimat itu datang dari orang yang justru membuatku harus belajar arti dari kalimat tersebut.

Waktu pertama kali mendengarnya, aku menganggu mengerti. Seolah yakin kalau memang semua rasa sakit pada akhirnya akan berlalu.

Ternyata… mengerti sebuah kalimat dan benar-benar menjalaninya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Karena ketika semuanya benar-benar berakhir, aku baru sadar.

Moving on isn’t a decision.

It’s a process.

Dan proses itu jauh lebih berantakan daripada yang dibayangkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sudah baik-baik saja. Aku bisa bekerja, bercanda, tertawa, menjalani hidup seperti biasa. Aku pikir, “Oh, maybe this is it. Maybe I’m finally okay.”

Lalu entah kenapa, ada satu lagu yang diputar di coffee shop. Atau ada seseorang yang tertawa dengan cara yang mirip. Atau aku melewati tempat yang pernah terasa begitu akrab.

Suddenly…

Everything came back.

Rasanya seperti baru kemarin.

Aku sempat kesal dengan kalimat itu.

“This too shall pass.”

Karena terdengar sederhana sekali.

Seolah rasa kehilangan punya jadwal.

Seolah hati bisa di-reset hanya karena waktu terus berjalan.

Padahal yang berat bukan cuma kehilangan seseorang.

Yang lebih berat adalah kehilangan semua kemungkinan yang pernah kita bangun di kepala.

The conversations that never happened.

The plans that never became reality.

The future that only existed because, for a while, we believed in it.

Orang-orang sering bilang, “Ikhlaskan saja.”

Aku rasa mereka benar.

Tapi mereka lupa memberi tahu bahwa ikhlas bukan sesuatu yang bangun pagi lalu tiba-tiba ada.

Ikhlas itu datang diam-diam.

Saat suatu hari kamu sadar, kamu sudah tidak lagi membuka chat lama.

Saat kamu bisa mendengar namanya tanpa dadamu ikut sesak.

Saat kamu berhenti bertanya, “Kalau waktu itu berbeda, apa kita masih akan berakhir seperti ini?”

Healing doesn’t arrive with fireworks.

It comes quietly.

Almost unnoticed.

Dan mungkin itu kenapa kita sering merasa tidak ada kemajuan.

Padahal kalau melihat ke belakang, kita sudah melewati begitu banyak hari yang dulu rasanya mustahil untuk dilewati.

Lalu aku mulai memahami kalimat itu dengan cara yang berbeda.

Maybe…

“This too shall pass” bukan berarti rasa sakitnya benar-benar hilang.

Karena beberapa orang memang akan selalu punya tempat di dalam cerita hidup kita.

Yang berubah adalah cara kita membawanya.

Dulu kenangan itu terasa seperti beban yang harus diseret ke mana-mana.

Sekarang, pelan-pelan, ia berubah menjadi bagian dari perjalanan. Masih ada. Tapi tidak lagi menentukan ke mana aku harus melangkah.

Dan mungkin itu yang sebenarnya dimaksud.

Bukan bahwa kita akan lupa.

Bukan bahwa kita akan berhenti mencintai versi masa lalu dari seseorang.

Tapi suatu hari nanti, kita akan bangun tanpa lagi berharap semuanya kembali seperti dulu.

Kita akan tersenyum ketika mengingatnya, bukan karena tidak pernah terluka, tapi karena akhirnya kita berhasil bertahan.

So yes…

You were right.

This too shall pass.

Tapi sekarang aku tahu…

Ngomongnya memang mudah.

Menjalaninya adalah cerita yang sama sekali berbeda.

Dan mungkin, bagian tersulit dari kalimat itu bukan kata “pass”.

Melainkan semua hari-hari yang harus dilalui sebelum akhirnya kita benar-benar percaya bahwa suatu saat nanti… rasa ini memang akan berlalu.

Komentar

Postingan Populer