The Empty Seat Beside Me
There are promises that stay with us longer than the people who made them.
Aku masih ingat dulu kita sering membahas hal-hal kecil yang ingin kita lakukan bersama. Bukan sesuatu yang mewah. Justru hal-hal sederhana yang membuat masa depan terasa begitu nyata.
Salah satunya adalah Candlelight Concert.
Aku yang pertama kali mengajak.
Dan setiap kali aku bertanya, “Bener ya nanti ikut?”
Kamu selalu menjawab dengan yakin.
“Dimanapun aku berada, aku pastikan akan datang.”
You said it more than once.
Maybe that’s why I believed you without questioning it.
Akhirnya aku membeli dua tiket.
Satu untukku.
Satu lagi… untuk seseorang yang waktu itu kupikir akan tetap ada.
For a while, everything still felt normal.
At least, that’s what I wanted to believe.
Lalu sekitar dua bulan sebelum konser, sesuatu mulai berubah.
Percakapan kita tidak lagi sehangat dulu.
Balasanmu mulai singkat.
Tawamu mulai jarang.
Aku bisa merasakan ada yang berbeda.
But I chose to act like I noticed nothing.
Karena kadang kita rela pura-pura tidak melihat kenyataan, hanya supaya masih punya sedikit waktu bersama.
Aku tetap mengajakmu bercerita tentang konser itu.
Tentang lagu apa yang mungkin dimainkan.
Tentang betapa aku sudah tidak sabar menunggunya.
Padahal di dalam hati…
Aku mulai takut.
Tiga hari sebelum konser…
Ketakutanku menjadi kenyataan.
Kamu bilang kamu tidak bisa datang.
Tidak ada marah.
Tidak ada drama.
Just a quiet confirmation of what my heart had already known.
Aku tidak terkejut.
Yang kurasakan hanyalah sedih.
Sedih karena ternyata firasatku benar.
Hari konser akhirnya tiba.
Aku tetap datang.
Dengan dua tiket yang dulu kubeli penuh semangat.
Dan satu kursi kosong di sebelahku.
People probably thought it was just an empty seat.
But to me…
it was everything we planned but never lived.
Setiap nada yang dimainkan malam itu terasa indah.
Namun di sela-sela musik, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.
Ironisnya…
Yang paling kurindukan malam itu bukan kehadiranmu.
Melainkan versi kita yang dulu.
Versi yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan konser ini.
Versi yang membuatku percaya bahwa kita akan duduk berdampingan malam itu.
Aku akhirnya sadar…
Sometimes the saddest part isn’t going alone.
It’s carrying a future that was supposed to belong to two people.
Aku pulang malam itu dengan satu tiket yang terpakai.
Dan satu janji…
yang tidak pernah sempat ditepati.
Maybe that’s why empty seats can be so loud.
Because they remind us that some people leave long before they actually disappear.
And every time I think about that concert, I don’t remember the music first.
I remember the seat beside me.
Still empty.
Just like the future we once planned together.
Komentar
Posting Komentar